Hidup Tanpa TV, Kenapa Tidak?

Banyak kegiatan positif yang bisa mengalihkan anak dari televisi. Yogi baru saja masuk taman kanak-kanak. Begitu sampai di kelas, mata bocah berusia 4 tahun ini sering kali berkedip. Ternyata tak sulit mencari penyebabnya. “Tuh, gara-gara keseringan main PlayStation. Padahal dulu gak gitu,” kata Vanny,ibunya.

Keluhan serupa juga dikeluhkan Ayu, warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Maklum, hampir setiap pagi terjadi keributan di rumahnya. ” gimana gak kesel, anak-anak bangun tidur langsung menyalakan televisi,” ucap ibu dua anak usia sekolah dasar ini dengan nada tinggi.

Anak-anak dan televisi agaknya sudah menjadi dua hal yang terpisahkan dalam kehidupan keluarga. Meski orang tua melarang mereka menonton di rumah, anak-anak tetap saja mendapatkan informasi dari teman-temannya. Lalu mungkinkah kita hidup tanpa televisi?

Untuk menjawabnya, mari kita simak penelitian yang dilakukan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) pada 2016 terhadap 1.600 anak-anak yang tinggal di Jakarta, Medan, Surabaya, bandubg, Yogyakarta, dan Makassar.

Hasilnya menunjukkan, setiap minggu anak-anak menghabiskan waktu 30-35 jam untuk menonton televisi. Itu belum termasuk penggunaan game elektronik yang rata-rata memerlukan 10 jam dalam sepekan.

Data yang disampaikan di atas memang memprihatinkan. Tentu harus ada langkah yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Menurut Bobi Guntarto, MA, Ketua YPMA, tindakan pertama yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi anak-anak adalah memahami efek negatif dan sisi positif media televisi.

Nah, hari tanpa televisi yang tahun ini jatuh pada 22 juli menjadi momen yang penting bagi keluarga. Tujuannya, kata Guntarto, tidak muluk-muluk. “Hanya ingin memberi insprasi kepada orang tua bahwa kita bisa hidup tanpa televisi, game elektronik, dan komputer”.

Apakah cukup satu hari? Tentu saja tidak. Sebab, bagi anak menonton televisi boleh dibilang menjadi makanan sehari-hari. Karena itu, orang tua perlu menetapkan kapan kotak ajaib itu tidak menyala dalam satu hari. “Ayah dan ibu bisa memilih dalam satu hari lain sebagai hari tanpa televisi untuk keluarganya,” ujar Guntarto.

Sayangnya, sering kali orang tua merasa sangsi apakah mereka mampu memisahkan televisi dari kehidupan anak-anak. Agar hasilnya optimal, Guntarto menyarankan, siapkan lebih dulu kegiatan alternatif yang bisa dilakukan anak. “Tentunya hal itu bergantung pada minat, fasiltas, dan sumber daya yang dimiliki keluarga.”

Widadi, MPD, pakar pendidikan yang ditemui Tempo saat pelatihan tentang kesehatan bagi anak sekolah di Yogyakarta, mengatakan hal yang sama, “Banyak kegiatan permainan anak yang bisa melatih kecerdasan anak, yang tak bisa digantikan dengan menonton televisi,” ujarnya.

Namun, ia juga percaya tidak semua acaratelevisi menimbulkan dampak negatif. “Ada koq, tontonan yang bagus untuk anak,” tutur Widadi sebari menunjuk acara petualangan anak yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Acara semacam itu, dia menambahkan, bisa menjadi media pembelajaran.

Dalam cara belajar, kata Widadi, anak-anak bisa dibagi dalam tiga tipe, yaitu audo,visual, dan kinetetik. “Televisi bisa membantu anak bertipe visual,” katanya lagi.

Sekarang tinggal kreatifitas orang tua dalam memandang fungsi televisi bagi anak. Agar dampak negatifnya bisa dikurangi, tentu perlu strategi.

Upaya yanng dilakukan Ela mungkin bisa ditiru, ibu dua anak usia SD dan satu balita ini punya langkah cerdik untuk menghindari anak-anaknya menonton televisi tanpa pengawasan. “Saya menggunakan pegacak sinyal,”l; tuturnya. Dengan sistem ini dia bisa bekerja dengan tenang dan meninggalkan anaknya ditangan pengasuh.
(sumber: tempo)
Share on Google Plus

About New Hiver

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Poskan Komentar